Pendidikan dalam Banjir Program: Banyak Teori, Sedikit Realita

Kepala MTsN 2 Aceh Selatan, Muslizar, S,Pd

Pendidikan di negeri ini seperti tidak pernah benar-benar selesai. Kurikulum terus berganti, program terus bermunculan, istilah-istilah baru terus diperkenalkan. Namun di balik semua itu, kehidupan sekolah tetap berjalan seperti biasa, bahkan di banyak tempat masih jauh dari standar yang seharusnya.

Setiap pergantian kebijakan, sekolah harus menyesuaikan diri. Guru dipaksa mengikuti kurikulum baru, sistem baru, aplikasi baru, dan laporan baru. Belum selesai memahami satu program, sudah datang lagi program berikutnya. Akhirnya, energi guru habis untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, bukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Di sisi lain, banyak pihak dari luar dunia pendidikan yang ikut membawa program masing-masing ke sekolah. Semua datang dengan tujuan yang dianggap baik, tetapi tidak selalu selaras dengan kebutuhan utama sekolah. Sekolah akhirnya seperti tempat persinggahan berbagai agenda, bukan lagi ruang belajar yang tenang dan fokus.

Padahal, jika setiap lembaga menjalankan tugas pokoknya dengan benar, dampaknya juga akan terasa bagi dunia pendidikan. Lembaga penegak hukum cukup fokus pada penegakan hukum yang adil. Lembaga pengawasan cukup memastikan tata kelola yang bersih. Lembaga kesehatan cukup menjamin pelayanan kesehatan masyarakat yang baik. Ketika semua sektor bekerja dengan benar di bidangnya masing-masing, pendidikan akan ikut merasakan manfaatnya tanpa harus dibebani terlalu banyak program tambahan.

Yang lebih memprihatinkan, masih banyak sekolah yang belum memenuhi standar dasar pendidikan. Fasilitas minim, sarana pembelajaran terbatas, dan kesejahteraan guru belum memadai. Namun yang sering dibicarakan justru konsep besar, teori baru, dan istilah-istilah yang terdengar canggih.

Inilah yang menimbulkan kegelisahan: antara ucapan dan kenyataan sering tidak sejalan. Program terlihat berhasil di atas kertas, tetapi tidak terasa di ruang kelas. Laporan penuh angka dan grafik, tetapi kondisi sekolah tetap sama.

Madrasah Kembali Jadi Penonton Ketika Bantuan TV Digital Belum Menyentuh Sekolah Keagamaan

Pendidikan akhirnya terjebak dalam budaya retorika. Banyak teori, banyak slogan, tetapi sedikit keberanian untuk jujur pada kenyataan. Ketika teori tidak sesuai dengan fakta, seharusnya yang diperbaiki adalah kebijakannya, bukan kenyataannya yang dipoles agar terlihat baik.

Sekolah tidak membutuhkan terlalu banyak program. Sekolah membutuhkan kebijakan yang sederhana, konsisten, dan jujur. Guru tidak membutuhkan terlalu banyak pelatihan seremonial. Mereka membutuhkan kesejahteraan, kepastian aturan, dan ruang untuk mengajar dengan tenang.

Sudah saatnya pendidikan kembali ke tujuan utamanya: membangun manusia, bukan sekadar membangun program.

Dan sudah saatnya setiap lembaga menjalankan tugas pokoknya dengan benar, agar pendidikan tidak lagi menjadi tempat menumpuk program, melainkan tempat tumbuhnya masa depan bangsa.

Oleh. Muslizar, S.Pd


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin