Dari Mimbar Upacara Menjadi Karya Literasi, MTsN 2 Aceh Selatan Bangun Budaya Guru

Kepala MTsN 2 Aceh Selatan, Muslizar, S.Pd.

Suaq Bakong — Ada yang berbeda di MTsN 2 Aceh Selatan. Amanat guru saat menjadi pembina upacara tidak berhenti setelah upacara selesai, tetapi dikembangkan menjadi artikel literasi yang dipublikasikan melalui media madrasah.

Bijak Menggunakan Teknologi Digital: Menjadi Pengendali, Bukan Dikendalikan

Program inovasi “Satu Guru, Satu Amanat, Satu Artikel” ini telah berjalan selama kurang lebih tiga tahun. Setiap guru yang mendapat tugas sebagai pembina upacara didorong untuk menuangkan kembali materi amanatnya dalam bentuk tulisan.

Tema yang diangkat beragam, mulai dari pendidikan karakter, kedisiplinan, akhlak, keagamaan, kesehatan, etika digital hingga motivasi belajar.

Bagi MTsN 2 Aceh Selatan, program ini merupakan cara sederhana untuk mengubah kegiatan rutin menjadi karya. Guru tidak hanya menyampaikan pesan secara lisan, tetapi juga menghasilkan tulisan yang dapat dibaca kembali oleh siswa, guru, orang tua dan masyarakat.

Kepala MTsN 2 Aceh Selatan, Muslizar, S.Pd, mengatakan bahwa budaya literasi harus dimulai dari guru.

“Kami ingin amanat guru tidak berhenti di lapangan upacara. Apa yang disampaikan dapat menjadi tulisan, sehingga menjadi karya dan dokumentasi literasi madrasah”.

Selain meningkatkan budaya menulis guru, program ini juga memperkaya konten positif media digital MTsN 2 Aceh Selatan serta membangun bank literasi madrasah.

Program ini menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan biaya besar. Dengan komitmen dan konsistensi, kegiatan sederhana dapat diubah menjadi karya yang bermanfaat dan berpotensi menginspirasi madrasah lain.

Dari mimbar guru berbicara, melalui tulisan guru berkarya.

Oleh. Muslizar, SP.d


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin