Suaq Bakong - MTsN 2 Aceh Selatan melaksanakan upacara bendera di halaman multifungsi pada Senin (28/09/2026). Bertindak sebagai pembina upacara Robi Agustian, S.Si. dengan tema amanat "Bijak Menggunakan Teknologi Digital: Menjadi Pengendali, Bukan Dikendalikan". Berikut isi dari amanat yang telah disampaikan.
Teknologi digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir setiap hari kita berinteraksi dengan berbagai perangkat teknologi, terutama telepon pintar atau handphone. Bagi generasi muda, khususnya siswa SMP dan MTs, handphone bukan hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana belajar, hiburan, mencari informasi, bermain, dan bersosialisasi.
Bangun tidur, hal pertama yang dicari terkadang adalah handphone. Sebelum tidur, masih sempat membuka media sosial. Ketika ada waktu luang, kita membuka TikTok, Instagram, YouTube, atau aplikasi lainnya. Ketika sebuah notifikasi muncul, tangan dengan cepat mengambil handphone.
Awalnya mungkin kita hanya berniat melihat satu video atau membalas satu pesan. Namun, tanpa terasa, sepuluh menit berubah menjadi satu jam. Satu video berubah menjadi puluhan video. Satu pesan kemudian membawa kita melihat berbagai status dan unggahan orang lain.
Kondisi tersebut menghadirkan sebuah pertanyaan penting: apakah kita yang mengendalikan teknologi, atau justru teknologi yang mulai mengendalikan kehidupan kita?
Teknologi Bukan Musuh
Pada dasarnya, teknologi bukanlah sesuatu yang buruk. Internet juga bukan musuh manusia. Handphone merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara tepat.
Dengan handphone, siswa dapat mengakses berbagai sumber pembelajaran. Internet memungkinkan seseorang mempelajari bahasa asing, menonton video pembelajaran, membaca Al-Qur'an, mempelajari matematika, IPA, sejarah, bahasa Indonesia, hingga berbagai keterampilan yang mungkin tidak diperoleh secara langsung di ruang kelas.
Seorang siswa yang memiliki rasa ingin tahu dapat menggunakan teknologi untuk mengembangkan potensinya. Ia dapat belajar desain grafis, membuat video, menulis, belajar pemrograman, mencari referensi tugas, mengikuti kursus daring, bahkan mempelajari berbagai keterampilan yang dapat menjadi bekal masa depannya.
Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada teknologi. Persoalan yang sebenarnya adalah bagaimana manusia menggunakan teknologi tersebut.
Pisau dapat digunakan untuk memasak, tetapi juga dapat melukai. Api dapat membantu manusia memasak, tetapi juga dapat menyebabkan kebakaran. Demikian pula teknologi digital. Jika digunakan dengan bijak, teknologi dapat menjadi sarana menuju kemajuan. Sebaliknya, jika digunakan tanpa kendali, teknologi dapat mengganggu pendidikan, hubungan sosial, kesehatan, bahkan masa depan seseorang.
Jangan Sampai Teknologi Mencuri Masa Depan
Masa remaja merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Pada masa inilah seorang siswa belajar membangun karakter, mengembangkan kemampuan, menentukan cita-cita, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Karena itu, waktu yang dimiliki siswa harus digunakan dengan sebaik-baiknya.
Jangan sampai prestasi menurun karena terlalu banyak bermain game. Jangan sampai waktu belajar hilang karena berjam-jam melakukan scrolling. Jangan sampai hubungan dengan orang tua menjadi renggang karena lebih dekat dengan teman di media sosial daripada dengan keluarga di rumah.
Yang lebih penting, jangan sampai seseorang kehilangan harga dirinya hanya karena ingin mendapatkan perhatian di media sosial.
Seorang siswa tidak harus menjadi viral untuk menjadi berharga. Tidak harus memiliki ribuan pengikut untuk menjadi berarti. Tidak harus memperoleh banyak like untuk membuktikan bahwa dirinya hebat.
Nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, jumlah komentar, atau jumlah like.
Setiap manusia memiliki nilai dan kehormatan karena diciptakan oleh Allah SWT dengan segala potensi dan kelebihannya. Oleh karena itu, jangan menjadikan media sosial sebagai ukuran utama untuk menilai harga diri.
Waktu Tidak Pernah Kembali
Salah satu hal yang paling berharga dalam kehidupan manusia adalah waktu.
Video yang telah ditonton mungkin dapat diputar kembali. Foto yang telah dihapus mungkin masih dapat ditemukan. Pesan yang terhapus mungkin dapat dipulihkan. Namun, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.
Bayangkan suatu hari nanti kita berdiri di depan cermin dan bertanya kepada diri sendiri:
"Apa yang telah saya lakukan dengan waktu saya selama ini?"
"Berapa banyak waktu yang saya gunakan untuk belajar?"
"Berapa banyak waktu yang saya habiskan hanya untuk scrolling?"
"Berapa banyak ilmu yang saya peroleh dari internet?"
"Dan berapa banyak waktu yang sebenarnya saya sia-siakan?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk kita renungkan.
Masa SMP atau MTs hanya berlangsung sekali. Masa belajar tidak akan terulang dengan kondisi yang sama. Kebersamaan dengan teman-teman juga tidak selamanya berlangsung. Kesempatan untuk membanggakan orang tua melalui prestasi harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Karena itu, teknologi hendaknya tidak menjadi pencuri waktu. Sebaliknya, teknologi harus menjadi alat yang membantu kita menggunakan waktu dengan lebih produktif.
Bijak Sebelum Mengunggah dan Membagikan
Teknologi digital juga menghadirkan sebuah tanggung jawab baru. Apa yang kita tulis, unggah, atau bagikan hari ini dapat menjadi jejak digital yang mungkin bertahan lama.
Satu komentar yang ditulis karena emosi dapat menyakiti orang lain. Sebuah foto yang diunggah tanpa pertimbangan dapat tersebar ke berbagai tempat. Sebuah berita yang dibagikan tanpa diperiksa kebenarannya dapat menimbulkan kesalahpahaman bahkan masalah yang lebih besar.
Oleh sebab itu, sebelum mengunggah, berkomentar, atau membagikan sesuatu, ada beberapa pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri:
1. Apakah informasi ini benar?
2. Apakah informasi ini bermanfaat?
3. Apakah tulisan atau unggahan ini sopan?
4. Apakah hal ini dapat menyakiti orang lain?
5. Apakah saya siap mempertanggungjawabkannya apabila orang tua dan guru saya melihatnya?
Jika jawabannya meragukan, maka lebih baik jangan dikirim, jangan diunggah, dan jangan dibagikan.
Orang yang bijaksana bukanlah orang yang mengatakan segala sesuatu yang ada di pikirannya. Orang yang bijaksana adalah orang yang mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus memilih diam.
Menghindari Cyberbullying
Salah satu tantangan dalam penggunaan teknologi digital adalah cyberbullying atau perundungan di dunia maya.
Sering kali seseorang menganggap komentar yang diberikan hanyalah candaan. Kalimat seperti "Ah, cuma bercanda" mungkin mudah diucapkan. Namun, kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan orang yang menerima komentar tersebut.
Seseorang yang kita ejek di grup mungkin sedang menghadapi masalah. Teman yang kita hina mungkin sedang berusaha menyembunyikan kesedihan. Sebuah komentar yang menurut kita sederhana mungkin saja menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan bagi orang lain.
Karena itu, jangan menjadikan jari kita sebagai senjata untuk menyakiti sesama.
Sebaliknya, jadikan teknologi sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan.
Jika teman mendapatkan prestasi, berikan ucapan selamat. Jika teman mengalami kesulitan, berikan semangat. Jika teman melakukan kesalahan, ingatkan dengan cara yang baik.
Dunia sudah cukup banyak memiliki kebencian. Jangan sampai kita menambah kebencian tersebut melalui komentar dan unggahan yang kita buat sendiri.
Gemilang di APRESIASI 2026, Siswa MTsN 2 Aceh Selatan Raih Prestasi di Bidang Agama dan Olahraga
Lima Cara Bijak Menggunakan Teknologi
Agar teknologi memberikan manfaat yang maksimal, siswa dapat membangun kebiasaan sederhana dalam menggunakannya.
1. Gunakan Teknologi untuk Belajar
Manfaatkan internet sebagai sumber pengetahuan. Cari materi pelajaran, video edukasi, buku digital, latihan soal, dan berbagai sumber terpercaya yang dapat membantu meningkatkan pemahaman.
2. Gunakan Teknologi untuk Berkarya
Teknologi tidak hanya digunakan untuk mengonsumsi konten. Gunakan teknologi untuk menghasilkan sesuatu.
Siswa dapat belajar menulis, menggambar, membuat video edukasi, mengedit foto dan video, membuat desain, belajar pemrograman, atau mengembangkan keterampilan lainnya.
3. Gunakan Teknologi untuk Berkomunikasi dengan Baik
Media sosial seharusnya menjadi sarana untuk mempererat hubungan, bukan menciptakan permusuhan.
Gunakan bahasa yang sopan. Hormati perbedaan. Jangan mudah terpancing provokasi dan hindari perdebatan yang tidak bermanfaat.
4. Gunakan Teknologi untuk Menyebarkan Kebaikan
Bagikan informasi yang benar, inspirasi, motivasi, ilmu pengetahuan, dan berbagai hal positif.
Sebelum membagikan sebuah informasi, periksa terlebih dahulu sumber dan kebenarannya. Jangan menjadi bagian dari penyebaran berita palsu atau informasi yang menyesatkan.
5. Gunakan Teknologi dengan Batas yang Sehat
Bermain dan menikmati hiburan tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, semuanya membutuhkan batas.
Kita boleh bermain game, tetapi jangan sampai game menguasai kehidupan. Kita boleh menggunakan media sosial, tetapi jangan sampai media sosial mengambil seluruh waktu kita.
Handphone hanyalah alat. Kitalah yang harus menjadi pengendalinya.
Masa Depan Ada di Tangan Kita
Suatu hari nanti, handphone yang kita gunakan sekarang mungkin akan rusak. Aplikasi yang kita gunakan mungkin akan berubah. Akun media sosial mungkin tidak lagi digunakan. Video yang kita tonton mungkin sudah tidak tersedia.
Namun, ilmu yang kita peroleh akan tetap menjadi bagian dari diri kita.
Akhlak yang kita bangun akan membentuk kepribadian kita. Prestasi yang kita raih akan menjadi kebanggaan bagi orang tua. Kebaikan yang kita lakukan akan menjadi bekal dalam kehidupan.
Karena itu, jangan biarkan teknologi mencuri masa depan.
Gunakan teknologi untuk mendekatkan diri kepada ilmu. Gunakan teknologi untuk mengembangkan bakat. Gunakan teknologi untuk membahagiakan orang tua. Gunakan teknologi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Yang perlu kita tanyakan bukanlah :
"Berapa banyak waktu yang dapat saya habiskan bersama teknologi?"
Tetapi :
"Berapa banyak kebaikan yang dapat saya hasilkan melalui teknologi?"
Generasi muda hari ini adalah generasi yang hidup di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Di tangan mereka terdapat akses terhadap informasi yang sangat luas. Kondisi ini merupakan peluang sekaligus tanggung jawab.
Teknologi dapat menjadi jembatan menuju masa depan apabila digunakan dengan bijaksana. Namun, teknologi juga dapat menjadi penghalang apabila digunakan tanpa batas dan tanpa kesadaran.
Masa depan tidak dibangun hanya dengan kecanggihan teknologi. Masa depan dibangun melalui pilihan-pilihan kecil yang kita lakukan setiap hari: memilih belajar daripada bermalas-malasan, memilih berkarya daripada hanya menjadi penonton, memilih menyebarkan kebaikan daripada kebencian, dan memilih mengendalikan teknologi daripada dikendalikan olehnya.
Jangan habiskan masa depan hanya dengan scrolling. Jangan tukarkan cita-cita dengan kecanduan. Jangan tukarkan waktu belajar dengan kesenangan sesaat. Dan jangan gunakan teknologi untuk menjatuhkan orang lain.
Gunakan teknologi untuk mengangkat diri sendiri dan mengangkat orang lain.
Pada akhirnya, bukan teknologi yang menentukan masa depan kita. Pilihan kita dalam menggunakan teknologi itulah yang akan menentukan ke mana kita melangkah.
Semoga kita menjadi generasi yang cerdas dalam ilmu, santun dalam akhlak, bijak dalam menggunakan teknologi, serta mampu meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.
Teknologi berada di tangan kita. Masa depan juga berada di tangan kita. Maka, gunakan teknologi dengan bijak dan bangun masa depan dengan penuh tanggung jawab.
Oleh Robi Agustian, S.Si
Berikan Komentar