Setiap tahun, bulan Ramadan selalu menghadirkan persoalan yang sama dalam dunia pendidikan, khususnya terkait pelaksanaan pembelajaran di sekolah dan madrasah. Secara normatif, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Namun dalam praktiknya di lapangan, banyak kebijakan yang tidak berjalan efektif dan justru menimbulkan persoalan baru, terutama terkait kehadiran siswa dan penerapan aturan akademik.
Realitas Kehadiran Siswa di Bulan Ramadan
Fakta yang tidak dapat dipungkiri adalah tingkat kehadiran siswa selama bulan puasa cenderung menurun. Kondisi fisik siswa yang sedang berpuasa, aktivitas ibadah di malam hari, serta kebiasaan sosial masyarakat selama Ramadan membuat ritme kehidupan siswa berbeda dari bulan-bulan biasa. Akibatnya, banyak siswa yang tidak hadir secara penuh dalam proses pembelajaran.
Situasi ini bukanlah fenomena yang terjadi di satu atau dua sekolah saja, melainkan hampir menjadi pola yang berulang setiap tahun di banyak lembaga pendidikan.
Dampak pada Aturan Akademik
Masalah muncul ketika kehadiran selama bulan puasa tetap dihitung sebagai kehadiran wajib sebagaimana bulan pembelajaran biasa. Jika aturan ini diterapkan secara kaku, maka banyak siswa akan tercatat tidak hadir tanpa keterangan (alfa). Akumulasi ketidakhadiran tersebut tentu akan berdampak pada penilaian akademik siswa, bahkan dapat memengaruhi keputusan kenaikan kelas.
Kondisi ini pada akhirnya menempatkan sekolah dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi aturan harus ditegakkan, tetapi di sisi lain realitas di lapangan menunjukkan bahwa aturan tersebut sulit diterapkan secara ideal.
Kebijakan yang Dipaksakan Akan Kehilangan Wibawa
Sebuah aturan seharusnya lahir dari pertimbangan yang matang dan realistis. Ketika sebuah kebijakan tidak sesuai dengan kondisi lapangan tetapi tetap dipaksakan, maka yang terjadi adalah hilangnya wibawa aturan itu sendiri. Bahkan tidak jarang aturan yang tidak realistis justru menjadi bahan candaan atau olok-olokan di kalangan siswa.
Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka yang dirugikan bukan hanya sekolah, tetapi juga sistem pendidikan itu sendiri. Disiplin tidak akan tumbuh dari aturan yang tidak mampu dijalankan secara rasional.
Perlu Keberanian Meninjau Ulang Kebijakan
Oleh karena itu, pemerintah dan para pengambil kebijakan pendidikan perlu memiliki keberanian untuk meninjau ulang pola pembelajaran selama bulan Ramadan. Kebijakan pendidikan tidak seharusnya bersifat seragam tanpa mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat.
Jika memang pembelajaran penuh selama bulan puasa sulit dilaksanakan secara optimal, maka perlu dirumuskan kebijakan yang lebih realistis dan kontekstual.
Alternatif Pendekatan yang Lebih Rasional
Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah menjadikan kegiatan pembelajaran selama Ramadan sebagai kegiatan pengayaan atau pembinaan karakter yang bersifat lebih fleksibel. Kegiatan tersebut dapat diisi dengan aktivitas keagamaan, literasi, pembinaan akhlak, atau kegiatan kreatif yang relevan dengan semangat Ramadan.
Dengan pendekatan seperti ini, sekolah tetap menjadi ruang pembinaan bagi siswa tanpa harus terjebak pada aturan kehadiran yang kaku dan sulit diterapkan.
Penutup
Pendidikan yang baik tidak hanya berpegang pada aturan, tetapi juga pada kebijaksanaan dalam membaca realitas. Bulan Ramadan adalah momentum spiritual yang sangat penting bagi siswa. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan pada masa ini harus dirancang dengan pendekatan yang lebih bijak, realistis, dan manusiawi.
Jika aturan tidak memungkinkan untuk dilaksanakan secara efektif, maka sudah seharusnya aturan tersebut diperbaiki. Sebab aturan yang baik bukanlah aturan yang sekadar tertulis, tetapi aturan yang mampu dijalankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab oleh semua pihak.
Oleh. Muslizar, S.Pd
Berikan Komentar